Cerita JAS-UI dan Alumni Sejarah UI

Dulu waktu saya kuliah S2 di Inggris, sempat ada 1-2 bulan ngalami kebingungan. Bukan masalah perbedaan kultur tapi perbedaan mindset antara ilmu S1 dan S2 yang saya ambil. Di Inggris, tepatnya University of Leeds, saya memilih untuk menekuni ilmu Advertising & Marketing. Ini adalah ilmu soal merancang masa depan. Bagaimana membentuk masa depan menjadi sesuatu yang kita inginkan.

Masalahnya dasar ilmu S1 saya itu adalah Ilmu Sejarah, yang saya tempuh di Universitas Indonesia. Ilmu yang mempelajari dan merangkai masa lalu. Benar-benar kebalikan dari Advertising & Marketing. Di S1 saya coba memahami peristiwa yang sudah terjadi, kemudian di S2 saya coba merancang bagaimana sebuah peristiwa dapat terjadi sesuai dengan yang kita inginkan. Perbedaannya seperti bumi dan langit. Bukan membesar-besarkan ya, tapi memang orientasi kedua ilmu itu di permukaan sangat berbeda.

Tapi sesuatu yang mengejutkan terjadi kira-kira dua bulan setelah saya memulai belajar di Inggris. Lama-kelamaan saya merasa fondasi berpikir sistematis Ilmu Sejarah yang saya dapat di S1 malah menjadi modal saya untuk secara akademis berpikir kritis dalam mempelajari ilmu Advertising & Marketing. Sudah seperti konsep bahwa masa lalu menjadi modal kita untuk masa depan. Begitulah Ilmu Sejarah (masa lalu) menjadi modal saya untuk belajar ilmu Advertising & Marketing (masa depan).

Saya tak menyangka bahwa Metode Sejarah yang ditancapkan dalam-dalam di otak saya oleh para dosen Ilmu Sejarah Universitas Indonesia, menjadi kelebihan saya untuk berpikir kritis saat mempelajari ilmu Advertising & Marketing. Memang pemahaman Metode Sejarah saya sendiri masih cetek. Tapi yang cetek saja sudah begitu kuat menjadi fondasi berpikir saya dalam meramu ilmu tentang masa depan.

Pemahaman cetek saya tentang Metode Sejarah adalah tentang tahapannya yaitu, Heuristik (pencarian sumber sejarah), Kritik (terhadap validitas sumber yang ditemukan dan akan digunakan), Interpretasi (memahami konteks atas data yang terkandung dalam sumber sejarah yang lulus proses kritik), dan Historiografi (cara menulis sebuah karya ilmu sejarah berdasarkan tiga tahap yang sebelumnya sudah dilalui). Bermodal cara berpikir Metode Sejarah, secara akademis saya jadi lebih mudah belajar S2 di Inggris. Secara tidak sadar saya sudah terbiasa mencari sumber/data terbaik, melakukan komparasi sumber/data, menarik kesimpulan dari semua sumber, dan menuangkannya dalam bentuk makalah-makalah keperluan akademis. Memang ada perbedaan dari metodologi ya, namanya juga satu ngomongin masa lalu dan satu lagi ngomongin masa depan. Tapi jelas saya sangat terbantu dengan berbekal pola pikir metode sejarah.

Terus saya ingat-ingat lagi, sebenarnya begitu banyak yang saya dapat selama menjadi mahasiswa Ilmu Sejarah di Universitas Indonesia. Waktu itu saya belajar bagaimana berorganisasi dengan menjadi pengurus Studi Klub Sejarah. Saya belajar bagaimana berdiskusi dengan orang-orang yang berbeda posisi dan pikiran dengan saya. Saya belajar bagaimana berinteraksi secara sopan dengan orang-orang yang lebih senior daripada saya. Termasuk saya belajar bagaimana makan pecel ayam pakai sendok garpu di kantin FIB UI (pas kecil cuma bisa makan pecel ayam pakai tangan. Terpaksa pakai sendok garpu karena dulu masih minim tempat cuci tangan).

Semua pengalaman yang saya dapat dulu saat S1 sungguh banyak yang masih saya gunakan sampai sekarang. Itu juga mungkin mengapa saya merasa berhutang budi dengan keluarga besar Ilmu Sejarah Universitas Indonesia. Meskipun sekarang secara profesional saya lebih mendalami dan mempraktekkan ilmu Komunikasi, tapi saya merasa akan kualat kalau melupakan akar keluarga besar S1 saya.

Jadi waktu beberapa waktu lalu saya diminta Badan Pelaksana Alumni Sejarah UI (singkatan nyelenehnya jadi BP ASU) untuk menjadi ketua panitia acara reuni alumni, sulit saya menolaknya. Walaupun jadi agak stress juga, karena di tengah berbagai kesibukan tetap harus mikir dan kerja bagaimana acaranya sukses dan banyak alumni yang akan datang. Apalagi di acara reuni itu nanti akan ada pembahasan dan penetapan AD/ART Ikatan Alumni Sejarah UI. Sebuah tanda bahwa kami para Alumni Sejarah UI sudah sah punya organisasi payung yang mengikat kami semua.

Awalnya acara reuni alumni ini mau dinamakan JAKS-UI (Jumpa Alumni Kerabat Sejarah Universitas Indonesia). Idenya sederhana karena salah satu tradisi di Ilmu Sejarah UI itu ada acara Jumpa Kerabat Sejarah (JKS). Acara menyambut mahasiswa baru yang dihadiri senior-senior. Jadilah namanya diusulkan JAKS-UI.

Tapi setelah diskusi-diskusi sambil ngopi, akhirnya BP ASU memutuskan namanya jadi JAS-UI (Jumpa Alumni Sejarah Universitas Indonesia). Alasan utamanya karena kemudahan lafal mengucapkan JAS-UI dibandingkan JAKS-UI. Alasan kerennya adalah di sejarah Indonesia ada kata mutiara Soekarno (Presiden pertama Indonesia kalau ada yang secara ajaib belum tahu) yaitu JAS MERAH (Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah). Makanya kita buat namanya jadi JAS-UI supaya orang mudah ingat.

Buat saya yang alumni Ilmu Sejarah UI, istilah JAS MERAH Soekarno bermakna dua. Pertama, jelas kalimat itu mengingatkan saya agar jangan pernah melupakan sejarah bangsa. Sesuatu yang almarhum ayah saya juga terus berpesan agar saya kembali dan turut membangun tanah air setelah belajar di Inggris.

Kedua, kalimat itu juga mengingatkan saya agar jangan pernah melupakan, bagaimana pengalaman saya bersama keluarga besar Ilmu Sejarah UI sudah turut membentuk diri saya menjadi seperti sekarang. Bahwa saya tidak perlu malu kalau ada orang yang mukanya bingung saat saya bilang saya lulusan Ilmu Sejarah UI. Itu bagian dari diri saya yang justru patut dibanggakan.

Seminggu lagi acara JAS-UI akan dilaksanakan. Tepatnya hari Sabtu, tanggal 18 November 2017, di Gedung IX FIB UI, jam 10.00-15.00.

Sekalian sebagai Ketua Panitia saya umumin kalau jam 10.00-12.00 itu acara pembahasan dan pengesahan AD/ART Iluni Sejarah UI. Lalu 12.00-15.00 itu acara senang-senang temu kangen dengan keluarga besar alumni Ilmu Sejarah UI, yang sebenarnya banyak orang-orang hebat. Itu juga mengapa BP ASU mau meluncurkan website Alumni Sejarah UI di JAS-UI. Platform digital yang sederhana untuk menunjukkan ke Indonesia (kalau perlu dunia) bahwa banyak alumni Sejarah UI yang hebat-hebat karyanya. Baik itu di bidang Sejarah, Media, Politik, Bisnis, dll.

Paling penting banyak yang datang. Inilah acara besar kita bersama sebagai Alumni Sejarah UI. Buat yang mau melepas rindu dengan kawan lama, buat yang mau diskusi-diskusi topik anyar, buat yang mau tahu rupa terbaru kampus FIB, buat yang mau bertukar pikiran, semuanya bisa di JAS-UI. Tenang aja, makanan dan minuman disediakan panitia karena ada sumbangan dari alumni-alumni tercinta. Buat yang mau nyumbang tapi belum, masih terbuka lebar kok rekening panitia acara.

Hari ini H-8 JAS-UI, beri tanda di kalender, pasang alarm, dan selalu cek FB Alumni Sejarah UI, Instagram @jas.ui dan WAG alumni Sejarah UI serta WAG angkatannya masing-masing.

Sampai jumpa di JAS-UI (18 November 2017) wahai alumni-alumni Sejarah UI. Jangan Sekali-kali Meninggalkan (Keluarga Besar Alumni) Sejarah (UI).

Penulis

Patria Gintings

Leave a Reply

Your email address will not be published.